1631591894 Review-Kitaria-Fables-–-Kombinasi-Menarik-yang-Berakhir-Dangkal

Review Kitaria Fables – Kombinasi Menarik yang Berakhir Dangkal

Ketika pertama kali diperkenalkan, Kitaria Fables langsung menarik perhatian saya karena berbagai faktor. Pertama, game ini memadukan petualangan/action/combat dengan bercocok tanam, kombinasi yang jarang ditemui di luar sana. Kedua, game ini terlihat indah dengan karakter yang lucu. Ketiga, game ini dibuat oleh studio asal Indonesia yaitu Twin Hearts.

Sayangnya meskipun punya premis dan ide yang menarik, Kitaria Fables gagal memaksimalkan elemen gameplay yang dimiliki.

Petualangan Pertama, Bercocok Tanam Kedua

review-kitaria-fables-5

Kamu adalah pewaris kakekmu yang merupakan petani sekaligus ksatria hebat di sebuah desa di tengah alam liar. Desa ini sayangnya sedang dilanda fenomena bernama Calamity yang membuat hewan liar di sekitar menjadi buas dan menyerang siapa saja. Sebagai pewaris, kamu kemudian datang dan melindungi desa tersebut sambil mencari dan membasmi sumber di balik Calamity tersebut.

BACA JUGA: Review Twelve Minutes: Game Misteri yang Sarat dengan Emosi

Dalam permainan kamu akan lebih sering berkelana dan berpetualang sambil mengalahkan musuh. Tapi di sela-sela itu kamu juga bercocok tanam dan membantu warga desa dan orang-orang di sekitarmu.

review-kitaria-fables-4

Kitaria Fables sejatinya adalah game action adventure dengan elemen bercocok tanam sebagai pelengkapnya. Ini terlihat dari seberapa dalam mekanisme combat dan action yang bisa kamu jelajahi dibandingkan dengan elemen bercocok tanamnya. Tidak hanya itu, bagaimana struktur “cerita” dalam game ini juga menekankan prioritas ke action dan petualangan. Sepanjang permainan kamu akan menerima misi dari berbagai karakter. Beberapa di antaranya bersifat wajib, sisanya sampingan tapi mungkin akan membuka fitur baru dalam permainan seperti item baru.

Game ini punya sistem skill tree yang cukup menarik yang diimbangkan dengan skill slot karakter yang terbatas. Artinya kamu sejatinya harus menentukan kombinasi skill yang kamu bawa. Sayangnya sistem ini tidak diimbangi dengan combat yang menarik. Hampir semua combat menuntutmu untuk menyerang, menggunakan skill, lalu menghindari sesuai indikator area serangan lawan. Pada akhirnya kamu hanya perlu membawa skill yang paling kuat dan mungkin paling aman (jarak penggunaan jauh atau animasinya singkat). Ini sangat disayangkan karena karaktermu tidak memiliki EXP atau level. Artinya daya tarik game ini sangat bergantung pada sistem combat-nya yang ternyata tidak terlalu dalam.

Sistem yang Merepotkan

review-kitaria-fables--6

Ketika berpetualang dan mengalahkan monster, kamu akan mendapatkan item yang bisa kamu buat jadi item lain atau meng-upgrade item yang sudah kamu miliki dan jumlahnya cukup banyak serta tersedia di NPC yang berbeda. Masing-masing item perlu bahan yang berbeda alias berasal dari monster yang berbeda.

Hanya saja meskipun mengajakmu untuk mengumpulkan bahan-bahan dari berbagai monster, game ini tidak menyediakan katalog di mana kamu bisa menemukan masing-masing bahan. Satu-satunya cara untuk mencari tahu di mana lokasi setiap bahan adalah melihat rincian misi yang sudah atau sedang kamu jalani.

Tidak hanya itu, meskipun relatif kecil, world map Kitaria Fables perlu waktu yang cukup lama untuk ditelusuri. Memang, seiring progres kamu akan menemukan titik fast travel. Hanya saja ada beberapa area yang tidak punya titik fast travel yang strategis atau hanya fast travel satu arah. Artinya untuk mengunjungi titik tertentu untuk farming kamu harus repot-repot jalan kaki dan membuang waktu yang berjalan cukup cepat.

review-kitaria-fables-1

Karena lebih menekankan action, eksplorasi, dan petualangan, farming di Kitaria Fables juga terbilang sangat sederhana. Kamu bercocok tanam hanya demi mendapatkan uang, mendapatkan bahan untuk membuat item, dan sesekali memenuhi syarat untuk menyelesaikan misi.

Bercocok tanam di sini juga tidak punya aturan yang rumit. Cukup tanam apa yang kamu inginkan, siram tiap hari, lalu ambil jika sudah siap panen. Kamu tidak perlu mempertimbangkan musim atau cuaca yang secara tidak langsung membuat bercocok tanam semakin lama terasa seperti rutinitas yang menjengkelkan dan membuat waktu petualanganmu yang berharga.

Terakhir, dari segi kendali, Kitaria Fables punya kenyamanan kontrol yang berbeda antara controller dan mouse/keyboard. Menavigasi menu dan combat jauh lebih mudah jika kamu menggunakan controller. Sementara jika menggunakan keyboard, kamu akan kehilangan beberapa shortcut yang membantumu bermain, terutama ketika kamu ingin melakukan transisi dari bercocok tanam ke combat dan petualangan. Tapi apapun yang kamu gunakan, UI/UX dan sistem storage di Kitaria Fables tetap tidak intuitif dan kadang membingungkan.

review-kitaria-fables-2

Satu hal yang menurut saya patut diacungi jempol adalah desain visualnya. Dunia Kitaria Fables terlihat indah dengan warna yang enak dipandang mata dan konsisten. Jenis areanya yang beragam juga membuat matamu cukup dimanjakan dengan variasi keindahan yang ada. Ditambah dengan desain karakter yang lucu, presentasi game ini memang harus diakui kualitasnya.

Tapi sorotan utama untuk game farming simulator seperti Kitaria Fables tetap adalah gameplay, dan aturannya tetap sama meskipun game ini lebih menekankan petualangan dan action. Sayangnya di aspek ini Kitaria Fables hanya mampu menyajikan gameplay yang basic atau surface level baik dari segi combat maupun bercocok tanam. Beberapa fiturnya juga membuat pengalamannya jadi menjemukan atau bahkan menjengkelkan setelah beberapa jam.

Jika kamu mencari game yang memadukan petualangan/combat dan bercocok tanam dengan sistem gameplay yang sangat sederhana, kamu mungkin suka dengan Kitaria Fables. Tapi jika kamu ingin mencari game serupa dengan sistem yang lebih dalam, saya lebih menyarankan serial Rune Factory atau bahkan My Time at Portia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *